Unair Rancang Teknologi Hiperspektral Budidaya Udang Vanamei

Diposting pada

Unair Rancang Teknologi Hiperspektral untuk Tambak Udang Vanamei

Tim Lembaga Ilmu Hayati Teknik dan Rekayasa (LIHTR) Universitas Airlangga (Unair) memanfaatkan teknologi hiperspektral untuk pengembangan budidaya tambak udang vanamei. Pengembangan teknologi ini bekerja sama dengan PT. Surya Windu Kartika dari kabupaten Banyuwangi.

Komoditas Udang vanamei menjadi salah satu komoditas ekspor yang terus meningkat setiap tahunnya. Dalam pembudidayaan udang vanamei membutuhkan perhatian lebih terkhusus dalam pengawasan atau surveillance air tambak. Karena selama ini, para petani tambak udang vanamei melakukan surveillance masih secara manual.

“Nah kita menawarkan solusi yang lebih praktis dan jauh lebih murah, jauh lebih baik,” kata perwakilan tim, Andi Hamim Zaidan, mengutip siaran pers Unair, Rabu, 14 April 2021.

Menurut dia, dengan teknologi ini, para petani tambak bisa lebih baik dalam melakukan pembudidayaan tambak udang vanamei. Ia berharap kuantitas hasil panen per-siklusnya atau kualitas udang yang dihasilkan meningkat.

Selanjutnya Zaidan mengungkapkan, dalam riset tersebut dikembangkan teknologi big data dan artificial intelligence. Sehingga, roll data yang ada pada satelit dapat diolah dan bisa didapatkan data-data strategis yang sesuai dengan kebutuhan tambak udang vaname.

Dalam pengolahan data memanfaatkan panjang gelombang dari beberapa west bend yang ada di satelit. Kemudian, dikembangkan satu algoritma dari beberapa panjang gelombang itu untuk mendeteksi beberapa parameter yang dibutuhkan. Seperti keberadaan fitoplankton, potensi penyakit, dan nutrien yang dibutuhkan.

Zaidan menuturkan, riset tersebut memanfaatkan beberapa satelit milik Amerika dan Eropa, yakni SEASAT dan Sentinel. Satelit-satelit tersebut digunakan sebagai surveillance untuk melihat kondisi sekitar tambak.

Dalam 10 tahun terakhir, sambungnya, tim telah melakukan pemetaan surveillance untuk data perairan seluruh Indonesia. Data tersebut digunakan untuk mengetahui area perairan yang berpotensi untuk dikembangkan tambak dengan baik.

“Sehingga nanti kalau ada pengusaha untuk berminat membuka tambak baru, kita bisa memberikan data strategi lokasi-lokasi yang bisa dibuka untuk tambak udang vanamei dan menawarkan informasi-informasi tersebut kepada SCI (Shrimp Club Indonesia),” ujar pakar nanoteknologi tersebut.

Zaidan mengungkapkan salah satu kelemahan surveillance dengan satelit adalah jangkauan west bend yang terbatas tidak dapat melakukan eksplorasi lebih. Dengan begitu, tim LIHTR juga sedang mengembangkan teknologi yang dapat menangkap dari 300 hingga 315 west bend.

“Tapi memang kalau device kita sendiri memang terbatas. Artinya tidak bisa seperti satelit yang copper seluruh dunia. Jadi memang biasanya dipakai di tambak-tambak untuk melakukan surveillance kualitas air dan seterusnya itu,” terangnya.

Dalam jangka panjang, teknologi hiperspektral nantinya akan dicoba dalam bidang medis sebagai diagnostik. Selain untuk pertanian dan budidaya perairan, teknologi akan dimanfaatkan untuk aplikasi kesehatan./Medcom

(Visited 6 times, 6 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *